Allahhu Akbar 400 rumah ludes sijago merah masih mengamuk desa Serdang terancam tanpa rumah penduduk

SIMPANG RIMBA — Malam hingga berita ini terbit kan Desa Serdang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan berubah menjadi lautan api.

Kobaran raksasa melahap kawasan permukiman warga tanpa kendali 400 rumah dikabarkan ludes di lalap si Jago merah peristiwa kebakaran dahsyat ini tidak sekadar membumihanguskan deretan tempat tinggal warga,tetapi juga menelanjangi rapuhnya sistem tanggap darurat dan proteksi kebakaran di wilayah pelosok daerah.

​Rekaman visual dari lokasi memperlihatkan lidah api membubung puluhan meter ke udara, melumat bangunan bertingkat dan menyelimuti langit malam dengan kepulan asap pekat.

Hembusan angin kencang mempercepat rambatan api ke bangunan di sekitarnya, sementara warga setempat tak berdaya membendung kobaran yang bergerak cepat.

​”Saat ini api di Desa Serdang, Kecamatan Simpang Rimba. Kemungkinan besar habis semuanya, bukan cuma 60, bisa ratusan rumah warga,” ujar saksi mata di lokasi kejadian, Sarman Putra Basel, di tengah suasana malam yang mencekam.

​Saksi lain mengatakan kepada redaksi ini melalui pesan Wa mengungkapkan sudah 400 rumah habis hingga pagi ini (saat berita ini di naikkan -Red) dengan kekhawatiran mendalam bahwa seluruh permukiman dapat rata dengan tanah akibat tiadanya daya perlawanan terhadap amukan api yang sedemikian masif.

Tanpa kehadiran armada penjinak api yang memadai di menit-menit krusial,warga hanya bisa menaruh harapan pada keajaiban cuaca.

​”Semoga cepat diturunkan hujan dari Yang Mahakuasa desa Serdang,Kecamatan Simpang Rimba berduka,” lanjutnya dengan nada getir di balik gemuruh suara kayu dan seng yang runtuh dilalap api.

​Tragedi ini menjadi potret nyata ketimpangan infrastruktur mitigasi bencana di luar kawasan perkotaan.

Posisi pos pemadam kebakaran yang terpusat jauh di ibu kota kabupaten kerap membuat waktu tanggap darurat menjadi sia-sia,memaksa warga berhadapan langsung dengan maut dan kemusnahan harta benda hanya berbekal alat seadanya.

Ketika anggaran penanggulangan bencana terus digelontorkan setiap tahun anggaran,peristiwa di Desa Serdang membuktikan bahwa jaminan perlindungan aset dan keselamatan warga pedesaan masih berada di titik nadir.

​Penyelidikan independen terhadap pemicu kebakaran,respons armada pemadam kebakaran, serta pertanggungjawaban otoritas daerah kini mendesak dilakukan secara menyeluruh guna memastikan tragedi serupa tidak terus berulang menelan korban***Tim /Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top